Jumat, 06 Januari 2012

Faux Ciel Bab 7 - Kabut Gelap Yang Tersingkap

Rumah itu tampak sederhana. Dinding bangunannya tersusun dari bilah-bilah papan, dengan atap yang juga dibuat dari papan yang disusun berundak-undak. Rumah itu mengambil gaya Medieval seperti umumnya rumah di Dunia Baru. Hanya beberapa bagian dari rumah itu yang dibuat dari batu. Salah satunya adalah cerobong asap yang mengepul di belakang rumah itu.

Rumah itu berdiri di sisi sebuah danau. Pintu belakangnya berhadapan langsung dengan tepian danau. Sebuah perahu kecil tampak tertambat di belakangnya. Jala dan pancing tersusun rapi di belakang rumah itu, bersebelahan dengan kapak yang tertancap di sebuah batang kayu tua.

Faux Ciel Bab 6 - Advano

Edward membuang pandangannya ke arah matahari yang mulai tenggelam di balik pegunungan. Sinar jingga keemasan dari matahari yang mulai tenggelam itu memberikan nuansa agung pada ruangan di mana ia berada. Sebuah ruangan di dalam bangunan bergaya Basilica yang menjadi istananya. Langit-langit dalam istana itu tinggi dan membentuk lengkungan, dengan ratusan fresco yang menggambarkan ratusan manusia bersayap. Manusia bersayap dan manusia tak bersayap, malaikat dan manusia biasa. Itulah yang dipercaya olehnya dan oleh seluruh kerajaannya sebagai awal dari munculnya Dunia Baru. Semua fresco di dalam istana itu bercerita tentang bagaimana para makhluk bersayap datang dan menyelamatkan manusia dari kehancurannya dan membawa mereka ke sebuah tempat yang lebih baik. Dunia Baru adalah dunia yang dianugerahkan pada mereka oleh para makhluk bersayap itu. Karenanya seluruh kerajaan Adventa yang dipimpinnya memutuskan menyembah para makhluk bersayap itu. Namun sekarang keberlangsungan dunia yang telah dianugerahkan pada mereka terancam. Takdir yang telah diramalkan sejak seribu tahun lalu akhirnya telah tiba.

“Raja Edward, para Pelayan Dewa telah menemukan di mana lokasi Sang Kunci dan Sang Pembuka Pintu. Mereka ada di salah satu pulau di selatan, tepatnya Pulau Arron.” Seorang prajurit datang menghadapnya dan memberikan laporan. Edward menghela napas. Adalah mudah menggempur Kota Ravena, satu-satunya kota yang berada di pulau itu. Ia sangat yakin keduanya berada di kota itu, karena demikianlah yang disebutkan dalam ramalan. Tetapi jika ramalan itu benar, maka semua pasukan yang dikirimnya akan musnah, sebanyak apapun itu.

Hanya ada satu cara yang bisa dilakukannya. Memanggil sang makhluk bersayap, Advano.

Rabu, 04 Januari 2012

Faux Ciel Bab 5 - Takdir Yang Bertautan

Setelah bersusah payah, akhirnya Lambert berhasil mencapai perbatasan antara hutan dan kota Ravena. Padang rumput membentang antara kota itu dan hutan di belakangnya. Di depannya telah terlihat benteng kota Ravena. “Kota itu tidak berubah sama sekali. Semoga mereka masih mengingatku,” kata Lambert. Energinya telah mulai terkuras. Tetapi ia memaksa dirinya untuk terus bertahan. Jarak satu kilometer yang membentang antara dirinya dan benteng kota itu pun bukan masalah besar baginya. Lambert menoleh ke arah gadis yang kini telah ia lepas dari ikatan yang melilit badan mereka berdua. Gadis yang tampak masih remaja itu masih terlelap dari tidurnya. Senyum yang dilihatnya sewaktu gadis itu masih berada di dalam tabung tetap menghiasi wajahnya yang damai. Lambert sedikit iri pada gadis itu. Seandainya saja ia bisa tidur sedamai itu. Tetapi tidur adalah kemewahan bagi pasukan pemberontak yang entah bagaimana caranya selalu saja bisa ditemukan pihak kerajaan Adventa.

Lambert masih ingat betul bagaimana kota Ravena dua belas tahun lalu. Kota itu jauh dari deskripsi kehidupan. Mayat-mayat bergelimpangan di tanah tanpa ada yang bisa mengyuburkan mereka. Bukan karena tidak ada yang mempedulikan mereka, tetapi karena sebagian besar penduduk kota itu juga terkenah wabah yang sama yang telah membunuh mereka. Ia dan Conrad yang sedang menyelidiki Tanah Selatan sempat melewati kota itu dan terkejut. Kala itu Conrad mengatakan wabah itu bukan wabah biasa, tetapi wabah yang sengaja disebarkan oleh Advano, bentuk kehidupan cerdas yang telah membuat Dunia Baru. Mereka lalu mencari sumber air kota itu dan membubuhkan seliter penuh cairan berwarna keemasan di dalamnya. Semua manusia di dalam kota itu berbondong-bondong mendatangi sumber air itu dan meminum air di dalamnya. Secara ajaib, penyakit yang nyaris membunuh mereka lenyap seketika. Namun duka terlanjur menyelimuti kota itu. Tangisan tampaknya tak akan berhenti dari kota itu saat ia dan Conrad meninggalkannya. Tetapi bila kota itu telah berdiri sekokoh itu, dengan tembok-tembok kotanya yang terawat, berarti kota itu berhasil bangkit dari keterpurukannya.

Selasa, 03 Januari 2012

Faux Ciel Bab 4 - Mimpi Dan Takdir Yang Mendekat

Mimpi itu kembali dilihatnya. Mimpi yang entah berapa lama tidak pernah lagi menyapanya dalam tidur. Tetapi kini mimpi itu kembali padanya, kembali menunjukkan padanya sebuah langit biru jernih dan laut biru di bawah kakinya. Ia berdiri menatap matahari pagi yang mulai naik dari arah batas dunia. Angin yang lembut bertiup di sela-sela rambut hitamnya membuatnya nyaman. Dari kejauhan terdengar puluhan burung camar yang terbang bebas di langit. Ia pun ingin merasakan bagaimana rasanya terbang seperti mereka. Ia mencondongkan badannya ke depan. Ia tidak terjatuh, bahkan ia semakin lama semakin tinggi. Di pundaknya kini muncul sepasang sayap camar yang bergerak-gerak mengikuti angin yang membawanya ke atas. Ia merasa bebas. Ia tertawa lepas. Seandainya Sierra berada bersamaku saat ini, pikirnya.

Namun tiba-tiba ia berhenti saat ia berpikir akan menyentuh langit. Tidak seperti mimpinya dahulu, tiba-tiba di depannya kini terdapat sebuah pintu berukuran raksasa yang terbingkai sulur-sulur tanaman berwarna keemasan. Pintu itu tampak kokoh dengan warna hitam kelamnya.  Sedangkan sulur tanaman yang membingkai pintu itu tampak seperti pelindung yang menghalangi siapapun mendekatinya. Ia penasaran pada pintu itu dan mendekatinya. Namun saat ia hampir saja menyentuh daun dari sulur-sulur itu, tiba-tiba terdengar suatu suara yang bergema di seluruh penjuru langit. Bahkan para burung camar sampai terkejut dan terbang berpencar mendengar suara itu.

Minggu, 01 Januari 2012

Faux Ciel Bab 3 - Mimpi Dan Harapan Baru

Adam terbangun di tengah malam sambil memegangi tangan kirinya. Ia melihat tangan kirinya berdarah. Ia meringis menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tangan kirinya itu. Di tangannya, sulur-sulur berduri berwarna hitam tampak bergerak-gerak mencambuki dirinya dengan liar. Darah segar mengalir dari bekas cambukan sulur-sulur itu. Demikianlah para pemilik budak mengendalikan budak-budaknya dan menghukum mereka yang berusaha lari dari mereka. Sulur-sulur itu akan memaksa para budak menyerah dan kembali, jika tidak mereka akan mati tercekik oleh sulur itu.

Penderitaan yang ditimbulkan oleh tatto kutukan yang ada di tangannya jauh lebih buruk dari mimpi buruk manapun. Mimpi buruk akan berakhir saat seseorang terbangun, namun rasa sakit di tangannya tidak akan berakhir bahkan saat ia membuka matanya. Sudah seminggu ia meninggalkan lokasi penambangan itu. Sejak itulah tatto sulur berduri di tangannya mulai menyiksanya, hingga akhirnya sulur-sulur itu melukainya pada malam ini. Darah segar masih belum berhenti mengalir dari tangannya. Selimut yang diberikan Sierra padanya telah ternoda dengan tetesan darahnya. Sudah tidak mungkin ia tidak membuat gadis itu khawatir.

Faux Ciel Bab 2 - Reuni

Adam berjalan menyusuri jalan kota Revena dengan memegangi perutnya yang terus menerus berbunyi. Sudah seminggu berlalu sejak ia tiba di kota itu setelah melarikan diri dari perbudakan di tempat penambangan. Ia menjual apa saja yang dimilikinya —beberapa relik langka yang ia ambil tanpa izin dari tempat penggaliannya— untuk menyewa kapal menuju ke kota itu hingga yang tersisa padanya hanya overall biru dan sepatu yang dikenakannya. Dan kini ia tidak punya uang lagi untuk membeli makanan. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Bau harum makanan dari rumah-rumah makan di sepanjang pinggiran jalan membuat kakinya berjalan gontai ke arah mereka. Namun saat ia menyadari tidak punya apa-apa untuk membeli makanan langkah kakinya berhenti dan menjauhi rumah-rumah makan itu dengan gontai dan kepala menunduk.

Aku harus mencari kerja secepatnya, katanya dalam hati. Tapi apakah akan ada yang mau mengambil pelarian sepertiku?

Faux Ciel Bab 1: Gadis Pembawa Harapan

Ruangan itu dipenuhi tabung-tabung setinggi manusia yang berisi cairan berwarna keemasan. Tidak ada lampu penerangan yang menerangi ruangan dengan langit-langit menjulang itu. Tetapi memang lampu tak begitu diperlukan. Cairan yang mengalir naik turun di dalam tabung-tabung itu menghasilkan pendaran keemasan, dan pendar itulah yang telah menerangi seisi ruangan penyimpanan itu. Sejauh mata memandang hanya ada tabung-tabung berisi cairan keemasan yang berkilauan setinggi manusia. Kecuali sebuah tempat yang terletak tepat di tengah-tengah ruangan itu. 

“Dia mulai terbangun,” kata seorang kakek tua yang berdiri di tengah-tengah  ruangan itu. Di depannya terdapat sebuah tabung raksasa dengan ujung atasnya nyaris menyentuh langit-langit. Di dalam tabung berukuran raksasa itu juga terdapar cairan keemasan, namun yang membedakannya dari tabung-tabung lainnya – selain ukuran tabung itu yang lima kali tabung lainnya – adalah benda lain yang ada di dalamnya.