Edward membuang
pandangannya ke arah matahari yang mulai tenggelam di balik pegunungan. Sinar
jingga keemasan dari matahari yang mulai tenggelam itu memberikan nuansa agung
pada ruangan di mana ia berada. Sebuah ruangan di dalam bangunan bergaya
Basilica yang menjadi istananya. Langit-langit dalam istana itu tinggi dan
membentuk lengkungan, dengan ratusan fresco
yang menggambarkan ratusan manusia bersayap. Manusia bersayap dan manusia tak
bersayap, malaikat dan manusia biasa. Itulah yang dipercaya olehnya dan oleh
seluruh kerajaannya sebagai awal dari munculnya Dunia Baru. Semua fresco di dalam istana itu bercerita
tentang bagaimana para makhluk bersayap datang dan menyelamatkan manusia dari
kehancurannya dan membawa mereka ke sebuah tempat yang lebih baik. Dunia Baru
adalah dunia yang dianugerahkan pada mereka oleh para makhluk bersayap itu.
Karenanya seluruh kerajaan Adventa yang dipimpinnya memutuskan menyembah para
makhluk bersayap itu. Namun sekarang keberlangsungan dunia yang telah
dianugerahkan pada mereka terancam. Takdir yang telah diramalkan sejak seribu
tahun lalu akhirnya telah tiba.
“Raja Edward, para Pelayan
Dewa telah menemukan di mana lokasi Sang Kunci dan Sang Pembuka Pintu. Mereka
ada di salah satu pulau di selatan, tepatnya Pulau Arron.” Seorang prajurit
datang menghadapnya dan memberikan laporan. Edward menghela napas. Adalah mudah
menggempur Kota Ravena, satu-satunya kota yang berada di pulau itu. Ia sangat
yakin keduanya berada di kota itu, karena demikianlah yang disebutkan dalam
ramalan. Tetapi jika ramalan itu benar, maka semua pasukan yang dikirimnya akan
musnah, sebanyak apapun itu.
Hanya ada satu cara
yang bisa dilakukannya. Memanggil sang makhluk bersayap, Advano.