Ledakan demi ledakan
yang menghujani kota Ravena telah berhenti. Api berkobar di mana-mana. Malam itu
berubah seperti siang karena semua tempat di kota itu disinari lidah-lidah api.
Teriakan panik memenuhi kota itu. Beberapa orang bahkan terinjak-injak oleh
yang lainnya. Ledakan yang terjadi tak pelak membunuh beberapa warga kota itu.
Suasana pesta yang sesaat lalu meriah kini berubah menjadi neraka. Tetapi
Lambert tahu ini bukan akhir dari penderitaan. Sebaliknya, ini adalah awal dari
serangan yang sebenarnya.
Lambert berusaha
menerobos kerumunan manusia yang berlari dengan panik. Ia berusaha untuk tidak
terjatuh, karena terjatuh di dalam kekacauan ini sama saja dengan mati. Tetapi
tak urung ia nyaris terjatuh saat kakinya terantuk sesuatu. Ia mencoba melihat
apa yang mengenai kakinya dan menemukan seorang wanita yang luka-luka karena
terinjak. Dengan cepat Lambert mengangkat wanita itu dan menyuruhnya pergi.
Jarak antara rumah
makan Ciel dan lapangan yang menjadi pusat kota itu hanya satu kilometer.
Dengan keadaan normal, jarak itu bisa ditempuh Lambert hanya dalam waktu kurang
dari dua puluh menit. Tetapi dengan kekacauan ini segalanya tidak bisa
diprediksi. Ia bahkan tidak yakin bisa mencapai tempat itu. Tetapi saat ia
mengingat Eva, ia merasa ada sebuah tenaga baru yang mendorongnya maju lebih
cepat menuju tempat itu.