Sabtu, 21 Januari 2012

Faux Ciel Bab 14 - Satu Jam

Adam mengepakkan kedua sayapnya. Dengan sangat cepat ia melesat menuju langit, dimana sebuah benda pipih berwarna emas menukik tajam ke arahnya. Tepat sesaat sebelum keduanya bertabrakan, benda berwarna emas itu tiba-tiba terbelah menjadi dua seperti aliran air terjun yang tersibak. Benda itu melewati Adam begitu saja. Melihat itu Adam berhenti dan berbalik. 

Benda berwarna emas itu kembali menyatu, namun kali ini ia membentuk sebuah bola. Atau lebih tepatnya seperti sebuah kepompong serangga.

Rabu, 18 Januari 2012

Faux Ciel bab 13 - Pertempuran Pertama

Ledakan demi ledakan yang menghujani kota Ravena telah berhenti. Api berkobar di mana-mana. Malam itu berubah seperti siang karena semua tempat di kota itu disinari lidah-lidah api. Teriakan panik memenuhi kota itu. Beberapa orang bahkan terinjak-injak oleh yang lainnya. Ledakan yang terjadi tak pelak membunuh beberapa warga kota itu. Suasana pesta yang sesaat lalu meriah kini berubah menjadi neraka. Tetapi Lambert tahu ini bukan akhir dari penderitaan. Sebaliknya, ini adalah awal dari serangan yang sebenarnya.
Lambert berusaha menerobos kerumunan manusia yang berlari dengan panik. Ia berusaha untuk tidak terjatuh, karena terjatuh di dalam kekacauan ini sama saja dengan mati. Tetapi tak urung ia nyaris terjatuh saat kakinya terantuk sesuatu. Ia mencoba melihat apa yang mengenai kakinya dan menemukan seorang wanita yang luka-luka karena terinjak. Dengan cepat Lambert mengangkat wanita itu dan menyuruhnya pergi.

Jarak antara rumah makan Ciel dan lapangan yang menjadi pusat kota itu hanya satu kilometer. Dengan keadaan normal, jarak itu bisa ditempuh Lambert hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Tetapi dengan kekacauan ini segalanya tidak bisa diprediksi. Ia bahkan tidak yakin bisa mencapai tempat itu. Tetapi saat ia mengingat Eva, ia merasa ada sebuah tenaga baru yang mendorongnya maju lebih cepat menuju tempat itu.

Minggu, 15 Januari 2012

Faux Ciel Bab 12 - "Kembalikan Setelah Kamu Kembali"

Sudah lebih dari tiga jam Eva terus menangis tanpa henti. Sudah selama itu pula Adam berada di sebelahnya, memeluk gadis itu untuk membuatnya tenang. Tetapi gadis itu masih menangis, meski kini sudah tidak sekeras sebelumnya. Tiga jam ini adalah waktu yang menyiksa bagi Adam. Bukan karena ia membenci kemanjaan Eva ― ia mulai terbiasa dengan hal itu. Tetapi selama tiga jam ini semua kenangan sedih yang dulu ditekannya hingga terlupakan kembali bangkit. Dimulai dari saat ia bertemu dengan gadis kecil berambut keemasan ― yang dinamainya Eva ― di dalam gua waktu itu. Ingatannya berjalan mundur ke saat-saat terakhir kedua orang tuanya. Juga bagaimana ngerinya kekejaman para Advano yang dilihatnya. Seharusnya semua itu sanggup membuat seorang pria menangis, tetapi air mata sudah lama tidak mengalir dari mata Adam. Cairan itu sudah lama mengering dan ia sudah kehilangan alasan untuk menangis. 

Eva terus menangis, sesekali sesengukan, sesekali menangis dengan keras dan memilukan. Tiap kali Adam mengingat hal-hal yang buruk di dalam hidupnya, tiap kali pula Eva menangis dengan pilu. Seakan-akan gadis itu menggantikan dirinya yang sudah tidak bisa lagi menangisi kesedihan dan kepedihan.
“Apa kau menangis untukku lagi?” tanya Adam.

Sabtu, 14 Januari 2012

Faux Ciel Bab 11 - Serangan Tiba-tiba Di Tengah Pesta

Bulan purnama nyaris berada di atas kepala. Sementara kota semarak dengan berbagai kemeriahan khas pesta, para penjaga di tembok kota malah harus berjaga dalam suasana sepi. Berbeda dari biasanya, kali ini satu menara penjagaan dijaga tiga orang prajurit. Bertambah satu orang dari hari biasanya yang hanya dua prajurit. Pada saat seperti ini penjagaan di tembok kota memang selalu diperketat. Bagi para penduduk kota dan semua pelancong yang berada di dalam kota itu mengetahui kenyataan bahwa mereka dilindungi oleh pasukan terbaik kota adalah hal yang menenangkan. Tetapi untuk para prajurit dalam pasukan itu, melindungi kota di saat orang lain berpesta tidak begitu menyenangkan.

“Aku iri dengan Paul yang bertugas menjaga di kota,” kata seorang prajurit. Di tangannya ada segelas coklat hangat yang sudah nyaris habis diminumnya. Setidaknya hanya itu kenikmatan yang bisa dinikmati prajurit garis depan sepertinya di hari perayaan itu.

Faux Ciel Bab 10 - Ketenangan Sebelum Badai

Edward sedang kebingungan. Raja itu telah diperintahkan untuk menyiapkan angkatan perangnya. Namun setelah pertemuan dengan sang Advano yang terjadi seminggu yang lalu, tidak ada perintah baru lagi yang diberikan padanya. Selama seminggu itu seluruh pasukannya telah ditempatkan dalam keadaan siaga perang tanpa mengetahui alasannya. Edward memang tidak memberitahukan alasannya, tetapi itu dilakukannya atas perintah sang Advano.

Matahari sore yang dilihatnya di koridor itu selalu bisa membuatnya damai. Setidaknya memandangi sang penguasa siang tenggelam dan kehilangan semaraknya membuatnya gembira. Ia senang melihat sesuatu yang lebih agung dan lebih semarak darinya jatuh dan musnah. Itu memberikannya sensasi kegembiraan tersendiri, melebihi sensasi yang dirasakannya bersama para selir muda yang dimilikinya.

Kamis, 12 Januari 2012

Faux Ciel Bab 9 - Sang Kunci

“Darimana kau tahu tentang Sang Kunci?”

Sorot mata Lambert menatap tajam pada Adam yang duduk di depannya. Ia telah menyarungkan kembali pistolnya. Awalnya ia tidak mempercayai Adam, namun Sierra yang ikut mendatangi kamar pria itu karena kegaduhan yang dibuatnya meyakinkan dirinya bahwa Adam adalah orang yang tidak berbahaya. Dan kini mereka bertiga berada dalam ruangan itu, dengan Sierra yang berdiri di samping Eva yang tertidur di ranjang Adam, dan kedua pria itu yang duduk saling berhadapan.

“Eva sendiri yang menyebut dirinya seperti itu. Gadis itu mendatangiku tiba-tiba dan menunjukan padaku penglihatan tentang masa laluku sendiri. Katanya aku yang memberikan nama Eva padanya enam belas tahun lalu,” kata Adam.

Rabu, 11 Januari 2012

Faux Ciel Bab 8 - Eva

Seharusnya ia sudah mati tenggelam di dasar sungai. Atau setidaknya terseret arus dan membentur bebatuan yang tajam, yang pada akhirnya membuatnya mati. Tetapi maut seperti enggan menyapanya. Dinginnya air dan sakitnya hantaman arus sungai di kulitnya perlahan-lahan menariknya keluar dari dunia yang gelap. Adam membuka matanya yang sangat lelah. Bukan hal yang mudah baginya karena nyaris semua energi di tubuhnya lenyap tak berbekas. Matanya perih dan merah. Antara air yang mengalir dari matanya dan air yang menyapu wajahnya sudah tidak dapat dibedakan lagi.

Adam melihat apa yang telah urung mengizinkannya bersatu dengan dasar sungai itu. Sebuah batu yang sepertinya berukuran besar dan berwarna hitam tepat bersentuhan dengan pipinya. Tampaknya batu besar itu telah secara ajaib menahan tubuhnya dari hantaman arus sungai. Dan keberadaannya di atas batu itu pun mungkin sebuah mukjizat. Arus yang deras pasti telah menyeretnya hingga akhirnya tergeletak di atas batu itu.